Prinsip dari karoseri itu membuat bus dari request atau permintaan dari PO atau project pemerintah mas. Misal ada PO meminta untuk buat SHD atau double decker ya pasti dituruti. tapi selama belum ada PO yang order biasanya jarang buat dulu kecuali buat kejar pameran.
]]>Makasih mas penjelasannya, segi positif tanpa topi, pandangan penumpang jadi semakin lapang, tidak terhalang topi. Nah, Legacy sebagai line up tertingginya Laksana, ada rencana nggak mas meng-XDH atau SHD-kan Legacy? Atau bikin double decker sekalian. Kayaknya lagi ngetren sekarang.
]]>Tingkat (Double Decker) dan tidak tingkat yang bisa disebut Super High Deck sebenernya bukan di acu dari kaca double atau pake topi. Tetapi dari dimensi lantainya mas.
kalau maxibus XHD ini sebenernya cuma sebuthan untuk bus High Deck cuma biasanya kalau PO ingin untuk terkesan berbeda mereka membuat sebutan masing-masing yang unik sebagai contoh XHD (eXtra High Deck) karena masu setinggi apa pun lantai bis semua udah ada regulasi yang mengatur dan hampir tiap tipe bisa hampir sama secara proporsinalnya.
Semoga terjawab, jika ada pertanyaan silahkan berkomentar 🙂
]]>Bukan yang double decker mas tapi yang Jetbus SHD itu lho min, Itu kan nggak tingkat tapi kaca depannya “tingkat”. Nah maxibus XHD ini apakah sama dengan SHD itu? Sebab namanya XHD tapi kok kaca depan seperti tipe biasa alias nggak pakai topi (nggak bertingkat)
]]>Maxibus dasarnya itu adalah Discovery yang di facelift mas jadi beda kelas, karena discovery sendiri itu masih dibawah kelas Legacy Sky SR-1. Dan untuk saat ini laksana belum memiliki model bus tingkat atau double decker.
Untuk bus yang di Nusantara Gemilang itu namanya Maxi Miracle jadi beda ama maxibus ini karena ini buatan karoseri Laksana.
Semoga sudah terjawab pertanyaanya. Thanks
]]>